Sunrays

Blogger Template by ThemeLib.com

3.14.2009

di balik indahnya kelapa sawit

Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit kedua dunia setelah Malaysia, namun proyeksi ke depan memperkirakan bahwa pada tahun 2009 Indonesia akan menempati posisi pertama. Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. Saat ini hampir separuh lahan pertanian malaysia adalah kelapa sawit. Di Sabah dan Sarawak, kebanyakan (lebih dari 70 persen) perkebunan kelapa sawit dimiliki oleh negara, dan pemilik lahan kecil hanya mengendalikan bagian kecil dari keseluruhan tanaman tersebut: 6 persen di Sabah, 3 persen di Sarawak. Di Indonesia, pembagiannya sangat berbeda. Para pemilik kecil secara kasar mengendalikan 30 persen dari perkebunan kelapa sawit, sementara perkebunan milik pemerintah hanya 20 persen. Sisanya, sekitar 50 persen, dimiliki oleh investor besar, yang mempunyai hasil tertinggi. Importir terbesar minyak kelapa Malaysia adalah Cina, India, Pakistan, Belanda, dan Mesir, sementara konsumen terbesar minyak kelapa Indonesia adalah India (3 kali lebih besar dari pengguna terbesar berikutnya), Cina, Belanda, Malaysia, dan Pakistan

Pengolahan kelapa sawit di Indonesia telah meluas dari 600.000 hektar di tahun 1985 hingga lebih dari 6 juta hektar di awal 2007, dan diperkirakan akan mencapai 10 juta hektar pada tahun 2010. Dengan pertumbuhan yang sangat cepat - dan ruang untuk ekspansi - Indonesia diperkirakan akan menggantikan Malaysia sebagai produsen minyak kelapa terbesar di dunia dalam beberapa tahun ke depan. Di Kalimantan, kelapa sawit telah meluas lebih cepat: dari 13.140 hektar di tahun 1984 hingga nyaris 1 juta hektar di akhir 2003
Perkebunan kepala sawit yang luas sejauh mata memandang bukan lagi hal yang aneh di Kalimantan atau daerah lainnya di Indonesia. Komoditas ini pula lah yang menjadikan Indonesia dapat berbangga diri karena bisa menjadi produsen utama terbesar minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) di dunia dengan produksi 15,9 juta ton pada tahun 2006 dan pada tahun 2007 sudah bisa mencapai lebih dari 17,2 juta ton. Dengan demikian tidak bisa dipungkiri bahwa telah terjadi pembangunan pertanian khusus kelapa sawit yang sungguh fantastis kita alami pada dekade lima tahun terakhir. Dapat dibayangkan hanya sampai tahun 2006 di Provinsi Kalimantan Selatan sudah terdapat 62 perusahaan pengelola perkebunan kelapa sawit yang telah mendapat izin pemerintah dengan luas garapan sebesar 476.685 hektare. Jumlah ini tentunya belum termasuk perkebunan yang dikelola masyarakat secara perorangan. Yakinlah jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan janji kelapa sawit yang terus mengiurkan bagi investor lokal maupun luar negeri. Berdasarkan hitung-hitungan di atas kertas, jelas keuntungan yang diperoleh dari penanaman kelapa sawit akan diraup hanya dalam jangka waktu kurang dari lima tahun, apalagi ditambah asumsi bahwa harga minyak mentah sawit (CPO) terus merangkak naik dari waktu ke waktu. Tidak aneh tentunya keadaan ini membuat semua investasi ingin diarahkan ke kelapa sawit, dari masyarakat awam hingga perbankan pun tergoda untuk berlomba ikut ambil bagian dalam pengembangan kelapa sawit yang penuh pesona.
Namun tak dapat dipungkiri walaupum komoditas kelapa sawit sekarang menjadi pesona bagi para investor asing maupun lokal tetapi perkebunan sawit di Kalimantan khususnya juga memiliki berkontribusi besar pada tingginya laju kerusakan hutan yang menurut data dari Departemen Kehutanan tahun 2002 bahwa setiap hari hutan alam Kalimantan mengalami deforestasi dengan laju kerusakan pertahun mencapai 2,1 juta Ha dan diperkirakan hutan tropis Kalimantan habis pada tahun 2010. Tingginya laju kerusakan hutan alam untuk perkebunan sawit tidak terlepas dari perspektif pemerintah Indonesia yang telah meletakkan pondasi ekonomi pada sektor ini. Tanpa peduli telah menimbulkan kerusakan hutan, punahnya keanekaragaman hayati, munculnya konflik sosial. Anggapan investasi sawit sangat menguntungkan daerah dan masyarakat, tentu tidak salah apabila nilai hutan dan keberagaman nilai ekonomi potensial masyarakat yang hilang tidak diperhitungkan. Akan tetapi jika hal ini dihitung dan dijadikan bagian biaya dari investasi maka analisis yang sangat menguntungkan tersebut tidak terlihat.
Kebijakan pemerintah untuk eksploitasi sumber daya hutan untuk kepentingan investasi tanpa ada batasan yang jelas tentu menimbulkan social cost dan environmental cost yang akan ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat. Kerugian pemerintah jelas dalam bentuk alokasi anggaran pembangunan/ peningkatan anggaran rehabilitasi sumber daya alam. Kabupaten Pontianak telah memprioritaskan pembangunan wilayahnya dengan mengembangkan Perkebunan Skala Besar (PSB) yang ditargetkan dalam tahun 2005 Semester I (ijin lokasi aktif 180.920 Ha, HGU 18.855 Ha, Informasi lahan seluas 92.000 Ha). Sedangkan laporan Bappeda Kalimantan Barat telah mengeluarkan ijin pemanfaatan lahan untuk perkebunan kelapa sawit seluas 3,5 juta hektar pada tahun 2000.
Dibalik penggundulan hutan sebagai hasil dari membuka hutan hujan di dataran rendah untuk perkebunan, ada dampak lain terhadap lingkunan hidup dari penanaman kelapa sawit. Beberapa studi telah menemukan penurunan jumlah (80 persen untuk tanaman dan 80-90 persen untuk mamalia, burung, dan reptilia) dalam keragaman hayati menyusul diubahnya hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Lebih jauh lagi, banyak hewan tak akan masuk ke perkebunan, namun lainnya, seperti orangutan, menjadi hama tanaman perkebunan dan membahayakan mereka dari perburuan liar para petugas perkebunan atas dasar defensif.
Penggunaan herbisida dan pestisida dapat pula berdampak pada komposisi spesies dan menjadi polusi di aliran sungai lokal. Dibutuhkan sistem pengeringan yang dibutuhkan untuk perkebunan (perkebunan kelapa sawit di Borneo biasanya didirikan di hutan rawa) bisa menurunkan tingkat air di hutan-hutan sekitarnya. Selain itu, perusakan lahan gambut meningkatkan resiko datangnya banjir dan kebakaran. Pembukaan hutan dengan api yang dinyalakan oleh pemilik perkebunan kelapa sawit besar adalah penyebab terbesar satu-satunya pada kebakaran di Borneo pada tahun 1997-1998.
Sesuai hasil riset Sawit Watch, dampak negatif perkebunan sawit sesuai pengalaman pada daerah lain adalah pertama munculnya persoalan tata ruang, dimana monokultur, homogenitas, dan over loads konversi, hilangnya keanekaragaman hayati dan menimbulkan kerentanan kondisi alam berupa menurunnya kualitas lahan disertai erosi, hama dan penyakit.
Kedua, pembukaan lahan kerap kali dengan cara tebang habis dan land clering dengan cara pembakaran demi efisiensi biaya dan waktu, ketiga kerakusan unsur hara dan air tanaman monokultur seperti sawit. Karena satu hari sebatang pohon sawit menyerap 12 liter air. Salah satu gejala kekeringan itu mulai terlihat ketika warga menggali sumur, kalau sebelum ditanami pohon sawit untuk mendapatkan air cukup digali dua atau 3 meter saja, namun setelah dipenuhi oleh tanaman sawit, harus menggali lebih dalam lagi dari biasanya. Disamping itu, pertumbuhan kelapa sawit harus diransang dengan berbagai macam zat fertilizer seperti pestisida dan bahan kimia lainnya sehingga mengakibatkan tanah gersang dan tidak lagi subur.
Ketiga munculnya hama migran baru yang sangat ganas, karena jenis hama ini akan mencari habitat baru akibat kompetisi yang keras dengan fauna lain. Ini disebabkan karena keterbatasan lahan dan jenis tanaman akibat monokulturasi.
Ke empat, pencemaran yang diakibatkan asap dari pembukaan lahan dengan cara pembakaran dan pembuangan limbah. Ini akan meracuni makhluk hidup dalam jangka waktu yang lama.
Kelima, munculnya konflik horizontal dan vertikal akibat masalah perijinan lahan dari pemerintah dan status kuasa adat atas tanah dan ke enam, praktek konversi hutan alam skala besar seringkali menjadi penyebab utama erosi, tanah lonsor dan kelangkaan sumber air bersih.
Di balik pesona yang diberikan oleh perkebunan kelapa sawit yang sedang marak-maraknya di bicarakan dan di kembangkan, ternyata memiliki dampak yang sangat membahayakan bagi lingkungan dan keanekaragaman hayati masyarakat kalimantan khususnya dan masyarakat indonesia umumnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Lipsum